Ngejazzin Lagu-lagu Kebangsaan & Kecintaan pada Negeri di 17-an Jazz Mben Senen

Tak ada dekorasi, hiasan, kerlap-kerlip lampu hias. Tiada pula backdrop di panggung yang menunjukkan ciri-ciri akan adanya perayaan Hari Kemerdekaan. Situasinya biasa-biasa saja, seperti halnya pentas-pentas Jazz Mben Senen pada pekan-pekan sebelumnya.

Panggung jazz mingguan yang digelar di pelataran Bentara Budaya Yogyakarta ini pada Senin (15/8/2022) malam lalu mengambil tema “17-an”. Pastilah ini untuk menyambut dan merayakan Hari Kemerdekaan negeri kita.

Saya hadir malam itu dan tentu saja menikmatinya; bukan hanya suguhan musik yang disajikan orang-orang muda itu, melainkan juga saya menikmati atmosfer kegembiraan dan keakraban yang selalu terbangun sejak kehadiran panggung itu pada Desember 2009. Kalau ingin tahu sekelumit tentang Jazz Mben Senen, klik di sini.

Kembali ke cerita 17-an di Jazz Mben Senen… Memang tak ada hiasan perayaan 17-an, tapi musik-musik yang ditampilkan sangat kental dalam menghadirkan atmosfer selebrasi Hari Kemerdekaan.

Pada setiap peringatan “17 Agustus” pastilah kita kerap mendengar lagu-lagu perjuangan, kebangsaan atau kecintaan pada negeri, seperti Satu Nusa Satu Bangsa, Sepasang Mata Bola, Tanah Airku, Halo-halo Bandung, Padamu Negeri dan lain-lain. Lagu-lagu semacam itulah yang dimainkan, baik dengan disertai vokal maupun hanya instrumentalia. Pasti kenal deh dengan lagu-lagu itu. Kalau tak mengenalnya, hanya ada satu kata: kebangeten! 🙂

Semangat 17-an sangat terasa, apalagi para penonton kadang-kadang juga turut menyanyikannya. Lebih khidmat lagi karena semua yang hadir diminta untuk berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya di awal pertunjukan malam itu.

Yang menarik bukan sekadar lagu-lagunya, tapi juga bagaimana para penampil menyajikan lagu-lagu tersebut. Ya, komposisi-komposisi itu tidak cuma hadir dalam aransemen yang biasa kita dengar, melainkan tersuguh dalam aransemen yang berbeda, dalam rasa yang lain, dalam atmosfer yang lebih ngejazz.

Namanya juga jazz, di tengah permainan senantiasa muncul improvisasi dari masing-masing pemain, entah itu dari vokalisnya, pemain gitar, drums, kibor, bas, saksofon atau lainnya. Tentu saja dengan skill dan kreativitas setiap pemainnya.

Bagi saya, improvisasi itu sebagai sebentuk kemerdekaan, kebebasan, dalam merespons sebuah komposisi yang dimainkan. Cocoklah dengan apa yang sedang dirayakan – kemerdekaan. Pokoke maknyus lah permainan mereka.

Menyaksikan sejumlah penampilan malam itu, saya jadi ingat dua CD album yang saya punya, yakni The Jazz Soul of Ismail Marzuki dan The Journey of Indonesia. Keduanya adalah album anak bangsa. Yang disebut pertama merupakan album dari Nial Djuliarso (pianis) dan kawan-kawan, dan yang kedua adalah album dari grup Bandanaira yang dimotori oleh Irsa Destiwi (pianis) dan Lea Simanjuntak (vokalis).

Mereka membawakan semua komposisi dengan rasa yang unik, dalam atmosfer jazz. Orang sering menyebutnya dengan “another bite of the apple”. Lagunya sama, tapi karena ditambahi bumbu lainnya dan diolah secara unik, muncullah rasa yang berbeda.

Merdeka!

One response to “Ngejazzin Lagu-lagu Kebangsaan & Kecintaan pada Negeri di 17-an Jazz Mben Senen”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: