4 Orang Membangun 4 Karakter dalam Novel “7 Minggu”

Sepekan sebelum peluncuran novel berjudul “7 Minggu”, saya menerima novel itu dari salah satu penulisnya yang kebetulan sama-sama wong Yogya, Sonia Prabowo. Dia seorang kawan yang awalnya saya kenal sebagai fotografer profesional, yang kemudian saya ketahui ternyata dia juga pelukis dan penulis.

Selain Sonia, tiga penulis lainnya adalah Eti Rihana, Albaransyah Yusuf dan Miko Soeganda. Dalam acara peluncuran novel di Tembi Rumah Budaya, Bantul, Yogyakarta pada Sabtu (20/8/2022), saya bertemu dengan dua penulis lainnya, Eti dan Albaransyah; Miko tak dapat hadir. Perlu diketahui, novel “7 Minggu” merupakan sekuel dari novel “7 Hari” yang mereka terbitkan sebelumnya, tepatnya Mei 2021.

Dari bincang-bincang saat peluncuran, saya ketahui bahwa mereka berempat memiliki latar belakang dan profesi yang berbeda, dan masing-masing menciptakan dan menarasikan satu karakter/subjek utama dalam novel (Shinta, Aldi, Regina, Bimo) yang setiap karakternya juga punya background dan problem yang berbeda.

Lantas, apakah novel ini sebentuk kumpulan novelet, yang masing-masing novelet bercerita tentang karakternya sendiri-sendiri, tak berhubungan? Tidak. Setiap penulis memang menceritakan karakter utama yang diciptakan, tapi sebenarnya keempatnya memiliki persinggungan. Bahkan ada satu benang merah di antara empat karakter itu.

Keempat karakter mengalami problema hidup yang serupa, yang mungkin bisa diikat dalam satu kata, “keteraniayaan”. Ada yang mengalami perundungan, tak dihargai, ada rasa terpinggirkan, dilecehkan, dan sejenisnya.

Acara bincang-bincang saat peluncuran novel “7 Minggu” di Tembi Rumah Budaya, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (20/8/2022).

Ada pula persinggungan di antara karakter-karakternya, misalnya perjumpaan antara Regina dan Shinta di suatu tempat di Bali. Ini bisa ditemui pada perjalanan cerita dalam novel, kalau kita membacanya dengan lebih cermat.

Apa yang disampaikan dalam novel sebenarnya berbasis pada kisah-kisah nyata yang disaksikan oleh keempat penulisnya. Sonia Prabowo menyebutkan, dia dan tiga kawan penulisnya menjadi “mata pertama” yang menyaksikan deretan peristiwa yang dinarasikan.

Bagi saya, ini novel yang menarik karena selama ini saya membaca novel yang ditulis oleh satu penulis. Kasus-kasus yang disodorkan sebenarnya kerap ada di seputar kita, tapi kadang-kadang luput dari sorotan. Para penulisnya tampak mencoba mengangkat persoalan-persoalan yang dinilai krusial itu ke permukaan, tentu saja melalui cerita yang mereka bangun.

Para penulisnya bercerita secara santai dengan gaya bercerita yang nyantai pula, sehingga saya pun merasa mudah mencerna momen-momen yang mereka narasikan. Pokoknya saya ikuti dan nikmati saja naik-turun emosi subjek-subjeknya dalam novel.

Pastilah saya tak mampu menelaah novel tersebut lebih dalam sampai ke ranah sastranya, la wong saya memang bukan kritikus sastra. Saya cuma pembaca kebanyakan, yang menikmati karya sastra secara selow dan dalam tempo yang sesantai-santainya… hehehe.

2 responses to “4 Orang Membangun 4 Karakter dalam Novel “7 Minggu””

  1. Kapan Njenengan akan bikin fiksi? Atau sudah?

    Like

    1. hahaha… tak mampu, mase

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: