Nonton “Yuni”, Ingat Fatima Mernissi

Bisa dibilang saya jarang nonton film Indonesia. Yang terakhir saya tonton di gedung bioskop adalah film “Istirahatlah Kata-kata” sekitar 5-6 tahun silam. Lalu film “Yuni” ini, yang tidak saya tonton di gedung bioskop, tapi di kanal Disney+/Hotstar, dan nontonnya pun dari layar laptop sebagai jeda/refreshing saya di tengah kegiatan ketik mengetik.

Kenapa saya menontonnya? Ya karena terpengaruh pemberitaan dan obrolan di media, termasuk media sosial, yang sebagian besar berpendapat ini film menarik karena menyodorkan isu perempuan/gender. Film ini juga berhasil memperoleh sejumlah penghargaan dari festival film di luar maupun dalam negeri, bahkan menjadi salah satu nominasi Oscar.

Disutradarai oleh Kamila Andini, “Yuni” berkisah tentang seorang pelajar yang duduk di kelas penghujung SMA bernama Yuni, yang diperankan oleh Arawinda Kirana, yang hidup dalam kungkungan budaya patriarki yang masih kental di kampung tempat tinggalnya, juga di sekolahnya. Film ini menggunakan bahasa Jawa-Serang dalam dialog-dialognya sehingga dilengkapi subtitle bahasa Indonesia.

Sebagai gadis remaja yang termasuk cerdas di sekolahnya, Yuni bercita-cita untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi setamat SMA. Seorang gurunya (perempuan) bahkan membantu Yuni untuk mendapatkan beasiswa perkuliahannya; salah satu syaratnya, siswa berstatus belum menikah.

Di tengah-tengah itu, datang dua lamaran dari dua pria secara berurutan yang ingin meminang Yuni sebagai istri, tapi kedua lamaran itu ditolaknya. Ada mitos di lingkungan Yuni, jika menolak lamaran sampai tiga kali, jodoh akan menjauh.

Datanglah kemudian lamaran ketiga. Yuni – yang hidup bersama neneknya karena kedua orang tuanya bekerja di luar kota – pun menjadi bingung dalam menentukan masa depannya. Berkonsultasi pada kedua orang tuanya, mereka malah meminta Yuni untuk memilih jalannya sendiri. Sementara itu, orang-orang di lingkungannya pastilah mendorong untuk menerima lamaran dan segera menikah.

Tangkapan layar film “Yuni”

Budaya patriarki di lingkungan Yuni memang amat kuat, bahkan cenderung melecehkan dan merendahkan posisi perempuan. Setidaknya ini ditunjukkan dalam film, ketika ada obrolan di antara perempuan, yang menyebutkan bahwa perempuan itu urusannya ya sekitar “sumur, dapur dan kasur”.

Film “Yuni” sepertinya ingin menunjukkan perjuangan perempuan sekaligus ketidakberdayaannya dalam menghadapi kuatnya arus patriarki. Kisahnya disampaikan secara sederhana, tanpa jargon atau teriakan muluk-muluk untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Mengambil latar sosial di Serang, Banten, penggambaran kisah di filmnya tampak natural, tak dilebih-lebihkan.

Terlepas dari itu, kisah Yuni ini langsung mengingatkan saya pada perjalanan hidup seorang perempuan aktivis (feminis), reformis sekaligus akademisi asal Maroko, Fatima Mernissi (1940-2015). Sebagai feminis, Fatima tidak mengekor ke feminis Barat yang terkadang cenderung anti-agama.

Fatima terlahir di kota Fez, Maroko utara, dari keluarga yang taat beragama (Islam) dan hidup di lingkungan tradisi “harem”, yang notabene mendukung inferioritas perempuan dan superioritas laki-laki.

Ayah Fatima dikenal sebagai pejuang kemerdekaan melawan imperialis Prancis, dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga dengan pemikirannya yang kritis. Sang ibu menolak poligami dan memandang “harem” sebagai bentuk ketidakadilan pada perempuan.

Menjadikan ibunya sebagai panutan, kendati sang ibu tidak pernah mengenyam pendidikan formal, bahkan tidak bisa membaca dan menulis, Fatima melihat pentingnya pendidikan bagi perempuan. Menurutnya, Islam tidak mendukung inferioritas perempuan.

Fatima melanjutkan studinya di Universitas Muhammad V di Rabat, ibukota Maroko. Gelar masternya didapat di Universitas Sorbonne, Paris, Prancis, dan gelar doktornya di Universitas Brandeis, Massachusetts, AS. Ia kembali ke almamaternya, Universitas Muhammad V, sebagai dosen dan profesor sosiologi sampai ia wafat di usia 75 tahun.

Sebagai akademisi, Fatima adalah penulis yang produktif dan banyak menerbitkan buku seputar isu-isu gender sehingga kian mengukuhkannya sebagai pakar gender. Bahkan disertasi doktoralnya yang berjudul “Beyond the Veil” menjadi rujukan di Barat.

Sebagai pemeluk Islam, Fatima selalu mengacu pada teks keagamaan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, yang dalam pandangannya tidak ada yang mendukung inferioritas perempuan. Saya pernah membaca tulisan seorang dosen senior dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Dr Inayah Rohmaniyah, bahwa semua teks bersifat terbuka untuk diinterpretasi. “Hasil interpretasi terhadap teks, termasuk teks Al-Qur’an, ditentukan oleh siapa pembacanya, bagaimana epistemologi dan metodologi pembaca dalam mengungkap makna-makna yang ada (hermeneutik), dan konteks pembacanya,” papar Inayah.

Fatima Mernissi

Interpretasi terhadap teks inilah yang kemudian oleh kebanyakan orang dipandang sebagai doktrin keagamaan, termasuk doktrin-doktrin yang tergolong misoginis. Itulah yang mendorong Fatima untuk mendobraknya.

Dalam menelaah teks-teks keagamaan, Fatima selalu menggunakan pendekatan historis, sosiologis dan hermeneutis. Dengan cara itu, ia bisa mendobrak dan menolak doktrin yang selama ini dipahami, terutama yang sangat merugikan pihak perempuan.

Banyak karya Fatima yang mendobrak interpretasi terhadap teks keagamaan berkait isu perempuan yang selama ini oleh sebagian besar orang telah dipahami sebagai doktrin, seperti ihwal penciptaan perempuan, kepemimpinan perempuan, hijab dan sebagainya.

Yuni dan Fatima berangkat dari lingkungan yang kurang lebih serupa. Kalau Fatima kemudian bertumbuh menjadi akademisi sekaligus feminis dan reformis, entahlah dengan nasib Yuni. Pasalnya, film “Yuni” berakhir ketika ia belum lulus SMA tapi sudah memutuskan untuk menikah, meskipun ia akhirnya kabur saat hari pernikahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: