Perjumpaan Timur & Barat Nan Syahdu di Pendopo Agung Ndalem Mangkubumen

Teriring musik yang harmonis, vokal nan mendayu dari dua perempuan beda kewarganegaraan itu mengalun, memenuhi atmosfer Pendopo Agung Ndalem Mangkubumen, Ngasem, Yogyakarta, pada Senin (29/8/2022) sore yang berawan.

Saya bergabung bersama sejumlah orang lainnya menonton konser tersebut. Di antara penonton ada yang menyaksikannya dengan lesehan, ada pula yang duduk di kursi. Pastilah ini sebuah pertunjukan yang menarik dan unik, yang menampilkan seniman musik dari Indonesia dan Belanda.

Dari Indonesia ada Peni Candra Rini dan beberapa kawannya, dan dari Belanda ada Annabel Laura dan Bram Stadhouders. Peni, Annabel dan Bram sama-sama memiliki pengalaman panjang dalam bermusik dan berkesenian, tak cuma di negeri masing-masing, tapi juga telah berpentas di sejumlah negara lainnya. Ketiganya juga sudah merilis beberapa album musik.

Komposisi-komposisi yang ditampilkan dalam pentas sekitar satu jam itu tentulah karya mereka sendiri, terutama karya Peni dan Annabel. Dalam konser sore itu selain Peni (vokal), Annabel (vokal, gitar akustik) dan Bram (gitar elektrik), ada sejumlah pemusik di antaranya pemain rebab, gender, kendang, suling dan gong.

Sebagai pesinden dan penyanyi kontemporer, Peni jelas punya cengkok yang sangat khas, dan tentunya terbiasa dengan nada-nada pentatonis. Selain sebagai performer, Peni juga dikenal sebagai salah satu dosen di Jurusan Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Surakarta, dan sudah meraih gelar doktor. Jadi di samping hebat sebagai praktisi, dia juga seorang akademisi nan elok tenan.

Sementara itu, Annabel pastilah terbiasa dengan nada-nada diatonis dengan olah vokalnya yang juga khas. Saya melihat keunikannya justru di lagu-lagu yang diciptakannya yang dikatakan terinspirasi oleh alam, dan sebagian berlirik bahasa Indonesia.

Saya pernah mendengarkan lagu “Kebunku” dan “Hujan” di album Annabel. Kebetulan kemarin sore saya mendengarkan “Kebunku” yang dibawakan dalam konser. Tentu saja komposisi tersebut menjadi memiliki warna dan rasa yang berbeda dari komposisi aslinya. Ya karena ada nada-nada pentatonis yang menyertainya, yang tak lain dimainkan oleh kawan-kawan Peni.

Sudah lama sekali saya tidak menikmati alunan musik “east meets west” semacam ini. Perpaduan dari sesuatu yang berbeda ini mampu membangun harmoni, keindahan dan kesyahduan, dan pastilah menghibur, setidaknya bagi telinga saya. Begitulah kira-kira semua repertoar yang disuguhkan selama pertunjukan.

O ya, kenapa kok di antara lagu-lagu ciptaan Annabel ada yang berlirik Indonesia? Itu dikarenakan dalam tubuh perempuan berkebangsaan Belanda tersebut mengalir darah Indonesia. Tak heranlah bila Annabel juga lumayan kerap berkunjung ke negeri kita, dan pernah berkolaborasi dengan beberapa musisi Indonesia sebelum ini.

Pentas kemarin sore merupakan hasil kerja sama antara Pusat Kebudayaan Erasmus Huis Jakarta dengan Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta dan WartaJazz.com. Pendopo Agung Ndalem Mangkubumen yang menjadi lokasi konser ini berada di lingkungan salah satu lokasi kampus UWM.

Acara tersebut sebenarnya bertajuk “Pendopo Agung Mid Monthly Performance”, yang dimaksudkan untuk menyambut kehadiran mahasiswa baru UWM tahun akademis 2022/2023. Selain pentas musik, katanya juga ada seminar. Gitulah sedikit info yang saya dapat.

2 responses to “Perjumpaan Timur & Barat Nan Syahdu di Pendopo Agung Ndalem Mangkubumen”

  1. perform yang indah dan dicatat dalam bahasa teks maupun visual dengan indah.

    Like

    1. hahaha… ini kerjaan cah selow, bung. catatan yg dibikin di kala selaw dan sukaria 😁

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: