Lesehan dan Jeprat-jepret Sekenanya di Pembukaan “Indonesia Bertutur 2022”

Sudah berpuluh tahun saya tak masuk ke area wisata Candi Borobudur, walaupun beberapa kali memotret world heritage itu, tapi dari kejauhan. Baru pada Rabu (7/9/2022) sore kemarin saya masuk ke dalam area candi.

Ya, itu karena saya beroleh undangan untuk menonton pembukaan dan serangkaian acara Festival Indonesia Bertutur 2022. Mengangkat tema “Mengalami Masa Lalu, Menumbuhkan Masa Depan”, festival ini berlangsung sampai Minggu (11/9/2022) dan menempati beberapa lokasi dalam area percandian.

Kedatangan saya di Candi Borobudur sore itu disambut hujan yang tak terlalu lebat, dan reda sebelum acara pembukaan dimulai. Yang menarik, yang tertata di Taman Lumbini – lokasi acara pembukaan – bukan deretan kursi untuk para tamu, tapi tikar-tikar untuk duduk lesehan.

Namanya juga cari tempat yang strategis dan kepenak, saya langsung lesehan di deretan paling depan. Tak lama kemudian Pak Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid, hadir dan duduk lesehan di deretan yang sama.

Pastilah ada sejumlah orang-orang penting di dekat-dekatnya. Yang paling mencolok tentulah tiga seleb yang duduk di belakang Pak Dirjen, yakni Happy Salma, Laura Basuki dan Reza Rahadian. Seperti kita ketahui, Laura Basuki menjadi ikon Indonesia Bertutur 2022. Tampak juga sutradara senior tanah air, Garin Nugroho, yang duduk tak jauh dari Pak Dirjen.

Tentulah ini kesempatan bagi saya, yang kebetulan duduk tak jauh dari mereka, untuk memotretnya. Sekadar untuk mendokumentasikan saja, dan mendapatkan kegembiraan… hehehe.

Saya dengar, Laura dinilai pas untuk mewakili “wajah” festival ini. Ia seorang aktris muda berbakat di dunia peran yang, katanya, punya kepedulian pada keberlanjutan budaya Indonesia. Yang saya tahu, Laura membintangi beberapa film, di antaranya Susi Susanti: Love All dan Before, Now and Then.

Setelah secara resmi dibuka oleh Pak Dirjen, panggung di Taman Lumbini yang berlatar Candi Borobudur itu langsung meriah dengan atraksi tarian dan nyanyian serta suara rampak musik pengiring. Lalu, mulailah saya menyibukkan diri jeprat-jepret sekenanya dengan kamera ponsel dan kamera berlensa 85mm. O ya, sambil berdiri, kita semua menyanyikan “Indonesia Raya” sebelum rangkaian acara pembukaan dimulai.

Gelaran yang diselenggarakan oleh Kemendikbudristek ini melibatkan ratusan seniman yang menyuguhkan lebih dari seratus karya seperti seni tari, musik, teater, film dan lain-lain yang melibatkan media dan teknologi baru. Jadi, sepertinya ada perpaduan antara seni dan teknologi yang tentunya akan memunculkan semacam sensasi-sensasi yang menarik untuk ditonton. Kira-kira begitulah. Kalau ingin tahu, ya datang dan menontonlah sembari bertamasya ke Candi Borobudur. Kalau ingin tahu cerita lengkapnya, ya baca saja berita-beritanya yang berserak di media online, atau tengok langsung di laman Kemendikbud.

Cerita saya di sini ya cuma semacam laporan pandangan mata, cuma sejauh yang saya lihat dan saya dengar tipis-tipis di saat pembukaan. Di lingkungan gelaran, ada sejumlah stan yang menjual berbagai kerajinan dan, yang penting, ada stan kulineran. Setelah upacara pembukaan usai, saya sempatkan sejenak menengok beberapa panggung pertunjukan, dan langsung nongkrong untuk menikmati coklat cinnamon hangat dan sepiring tahu kupat khas Magelang saat malam mulai merayap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: