Melihat Keindahan Akulturasi & Toleransi

Sabtu (10/9/2022) malam lalu saya hadir di pembukaan pameran fotografi “Memoar Orang-orang Singkawang” di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), itung-itung malam-mingguan bareng banyak kawan, apalagi bisa wedangan, makan-makan dan disuguhi pertunjukan musik sebagai hiburannya.

Meriah sekali malam itu. Selain banyak kawan pewarta foto, juga hadir sejumlah tokoh seni dan budaya. Hadir pula Direktur Jenderal Kebudayaan Kementeriaan Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Hilmar Farid. Saya bersua beliau tiga hari sebelumnya di Candi Borobudur, Magelang, dalam acara pembukaan Festival Indonesia Bertutur 2002, dan eh… tiba-tiba berjumpa lagi di BBY.

Memasuki ruang pameran, saya langsung melihat-lihat sederetan foto yang dipamerkan, dan merasa terbawa ke Singkawang, sebuah kota yang berjarak 150-an km dari ibukota Kalimantan Barat, Pontianak. Foto-foto yang tersaji menunjukkan berbagai hal di kota itu, seperti arsitekturnya, seni-budaya sampai orang-orangnya. Tak hanya foto masa kini, tapi juga ada foto masa lalu, sehingga perjalanan historisnya pun tergambarkan.

Yang juga menarik perhatian saya adalah sebuah manekin di ruang pameran yang padanya dikenakan pakaian “tatung”. Bagi yang sudah pernah menyaksikan perayaan tahunan Cap Go Meh di Singkawang, pastilah tak asing dengan arak-arakan tatung yang notabene menjadi salah satu ikon penting dalam perayaan tersebut.

Bagi saya, Singkawang merupakan kota yang unik. Keunikan itu terlihat dari proses akulturasi dan kadar toleransi di tengah masyarakatnya yang begitu majemuk dalam hal suku/etnis dan kepercayaannya. Akulturasi dan toleransinya begitu matang, setidaknya bila dibandingkan dengan beberapa daerah lain di Indonesia yang masih cukup sering didera kasus-kasus intoleransi.

Tak terlalu mengherankan jika pada tahun 2021 Singkawang dinobatkan sebagai kota paling toleran di negeri kita. Menurut data Badan Pusat Statistik, kalau tak salah tahun 2011, etnis Tionghoa merupakan populasi tertinggi, disusul etnis Melayu (Singkawang), Dayak, dan etnis-etnis pendatang lainnya seperti Jawa, Madura dan yang lain.

Dari beberapa tulisan yang saya baca, ada yang menyebut bahwa keberadaan etnis Tionghoa di Singkawang terlacak sejak abad ke-12 atau ke-13. Tentu saja kultur Tiongkok melekat pada diri orang-orang yang datang itu.

Untuk apa mereka dulunya datang ke wilayah Kalimantan Barat? Awalnya sih untuk berdagang. Namun dalam perkembangannya pada abad-abad berikutnya, semakin banyak orang dari Tiongkok yang berdatangan, termasuk untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di pertambangan emas pada sekitar abad ke-18.

Tak sedikit akhirnya yang memilih menetap di Kalimantan Barat, termasuk di Singkawang. Mereka pun melebur dengan orang-orang setempat, yang kemudian beranak-pinak. Otomatis peleburan budaya Tionghoa dan budaya setempat terjadi. Kira-kira begitulah jejak-jejak terdahulu yang “hasilnya” bisa kita saksikan di masa kini.

Menyaksikan pameran foto yang akan berlangsung sampai 18 September 2022 ini, saya bisa merasakan keindahan budaya Singkawang setelah melewati perjalanan panjang, yang kemudian menempa orang-orangnya untuk membangun jati dirinya sebagai warga Indonesia. “Sebuah perjalanan panjang bagaimana sebuah etnis minoritas di Indonesia berjuang untuk mempertahankan dan menghidupi jati dirinya, sekaligus memberikan diri bagi lingkungan dan bangsanya… bangsa Indonesia,” tutur Sindhunata – yang lebih akrab disapa Romo Sindhu, selaku salah satu pendiri BBY dan pernah menjadi wartawan Harian Kompas – dalam pidato pembukaan pameran.

Pameran fotografi ini merupakan kerja sama antara BBY, Yayasan Singkawang Luhur Abadi dan Yayasan Riset Visual MataWaktu.

2 responses to “Melihat Keindahan Akulturasi & Toleransi”

  1. Apa sih yang disebut asli Indonesia? Nama Indonesia juga dari orang Eropa.
    Lalu siapa yang merasa paling berhak atas ruang hidup bernama Indonesia? Semua orang yang merasa sebagai orang Indonesia apapun latar etnis dan agamanya.

    Like

    1. Nggih leres, masé… gak ada yg asli Indonesia. Kopi, tembakau… bukan asli Indonesia, tp skrg jd milik Indonesia. Nama saya pun gak asli Indonesia, tp saya sepakat menjadi (orang) Indonesia

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: