Suasana Pagi, Siang dan Sore di Candi Cinta

Jauh sebelum William Shakespeare menulis kisah cinta tragis “Romeo and Juliet” yang amat terkenal itu, di Jawa ada kisah cinta (tidak tragis) yang sejarahnya bisa dilacak di Candi Plaosan. Candi yang dibangun pada abad kesembilan ini terletak di Klaten, Jawa Tengah, sekitar 1,5 km sebelah timur Candi Prambanan, Sleman, Yogyakarta.

Menurut sejarahnya, candi ini memang dibangun atas nama cinta. Cinta siapa? Cinta Rakai Pikatan yang beragama Hindu  dengan Pramodhawardani yang beragama Buddha. Perjalanan cinta mereka sepertinya berliku-liku lantaran perbedaan agama itu.

Dalam bayangan saya, kisah cinta mereka mungkin menyerupai percintaan yang digambarkan dalam film atau sinetron yang kita tonton. Berbagai rasa resah dan badai penolakan entah dari keluarga maupun lingkungannya tentunya menerjang mereka berdua.

Namun toh mereka tetap move on dan akhirnya menikah. Rasa cinta mampu mengesampingkan perbedaan dan berbuah kebahagiaan.

Keduanya memimpin Kerajaan Mataram Kuno (Hindu) di seputaran abad kesembilan. Sebagai wujud rasa cintanya pada sang istri, Rakai Pikatan membangun candi tersebut.

Candi Plaosan dikenal sebagai candi Buddha. Tapi jika ditilik lebih teliti, katanya, candi itu punya gaya atsitektural Hindu. Perpaduan itulah yang menjadikan candi Plaosan menarik, bahkan unik, mungkin juga istimewa.

Tak ada salahnya pula jika kemudian banyak orang memandang Candi Plaosan sebagai lambang cinta, sekaligus toleransi beragama. Ujung-ujungnya, dari kisah asmara ini, muncullah mitos di kalangan masyarakat.

Saya kira sudah banyak yang tahu soal mitos itu, yang biasanya dihubung-hubungkan dengan mitos tentang Candi Prambanan. Katanya, bagi pasangan yang mengunjungi Candi Plaosan, hubungan cintanya bakal langgeng. Hal sebaliknya terjadi bila mengunjungi Candi Prambanan, hubungannya akan retak. Begitulah mitos yang beredar.

Bagi saya, yang sering melewati jalur di dekat Candi Plaosan ketika melakukan perjalanan Yogya-Solo pp, candi itu terlihat cantik di segala waktu, entah langit dalam kondisi cerah atau berawan. Saya lebih suka memilih jalur itu ketimbang jalur utama yang kini lalu lintasnya kian padat.

Candi Plaosan ini terdiri atas dua bagian, yakni Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. “Lor” dan “Kidul” adalah kata dalam bahasa Jawa yang masing-masing berarti utara dan selatan.

Foto-foto yang saya tampilkan ini adalah Candi Plaosan Lor. Sudah pastilah semuanya tidak dipotret dalam waktu sehari. Ada kalanya saya berkendara ke Solo pada pagi hari, sehingga bisa mendapatkan foto di kala matahari baru saja terbit. Tapi pernah juga saya memotret ketika berniat kulineran dan ngopi pagi di sekitar candi.

Begitu pula dengan foto-foto suasana siang, sore dan ketika matahari hendak terbenam. Ada kalanya saya potret di saat mampir sejenak sepulang dari Solo menuju Yogya, dan ada pula ketika sedang ngopi sore bareng beberapa kawan.

Setiap kali memotret, saya hanya berusaha melihatnya dari sudut yang berbeda-beda. Yaahh… namanya juga kurang kerjaan, saya mondar-mandir di sekitar candi untuk mendapatkan sudut pandang yang maknyus, menurut perkiraan saya. O ya, semua foto ini saya bikin di kala pagebluk. Kalau nggak salah, lima foto saya jepret dengan kamera ponsel, dua foto lainnya dengan lensa 85mm yang terpasang pada kamera mirrorless lawas, yang mereknya pun nggak terkenal. Gitu deh 🙂

2 responses to “Suasana Pagi, Siang dan Sore di Candi Cinta”

  1. Alat adalah satu hal. Siapa yang pegang adalah hal lain. Ibarat ada trail belum tentu saya bisa naik seperti wong Serengan itu 💩

    Like

    1. hahaha… salam selat solo 😁

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: